Gesitlah, Jangan Menjadi Pengusaha Malas

By: Johny Rusly.

“Hari ini jadi ke pak Rhenald?” Riawan Tamin, teman saya di komunitas TDA Jakbar bertanya kepada saya di WA.

“Beliau masih di Solo. Di acara mantu pak Jokowi. Mungkin acaranya batal.” Jawab saya sekenanya.

Hari ini rencananya saya dan beberapa teman dari TDA Jakbar mau ikut acara bedah buku pak Rhenald Kasali.

Tetapi, pada hari bersamaan, pak Rhenald masih di Solo. Beliau diundang ikut acara mantuan pak Jokowi.

Logika saya, beliau pasti tidak keburu pulang. Jakarta Solo bukan jarak yang dekat, dan mungkin beliau tidak keburu ke Jakarta, dan acara bedah buku batal dilaksanakan.

“Kalau begitu, saya jalan – jalan dengan istri saja. Karena memang ia minta ditemani jalan – jalan.” Kata Riawan.

“Sebentar mas, untuk pastinya, saya konfirmasi sekali lagi ..”

Dan sayapun bertanya kepada pak Rhenald di grup WA.

Di sela-sela acara pak Jokowi, beliau menjawab ini yang membuat saya menjadi malu hati.

****************************

Menjadi pengusaha memang membuat hidup saya nyaman. Perusahaan kami, Kotakpensil.com, berkembang cukup baik. Walalupun masih kecil, KOTAKPENSIL cukup sehat dan ibarat anak kecil yang sedang tumbuh kembang, Kotakpensil sedang lucu-lucunya.

Segala sesuatu berjalan lancar. Saya dan team sangat menikmati situasi ini.

Kantor juga sangat dekat rumah, hanya 10 menit. Jalur rumah kantor dijamin anti macet karena melewati komplek rumah penduduk yang sepi.

Kondisi seperti ini sebenarnya sangat berbahaya, day to day yang nyaman, dapat membuat kita terlena, tertidur, lalu terlelap.

Terlelap tidur nyenyak, membuat kita buta dan tuli terhadap situasi di sekeliling.

Tanpa saya sadari, saya semakin masuk ke zona nyaman yang mematikan..

Zona nyaman itu mematikan kreatifitas dan terutama finger touch saya terhadap situasi terkini dalam bisnis.

Lawan kita tidak tidur. Di zaman serba internet sekarang (Internet of Things), banyak pesaing-pesaing yang tidak kasat mata. Diam-diam mereka bergerilya, dan muncul tiba – tiba, ketika mereka sudah besar dan kuat. Tahu2, porsi pasar kita sudah hilang direbut orang.

***************************

Biasanya, saya sering agak malas keluar kantor, apalagi ke tempat yang macet seperti Pondok Indah Mall.

Jarak dari Kedoya Taman Ratu, tempat tinggal saya, ke Pondok Indah Mall, memang tidak begitu jauh. Tetapi jalur ini termasuk jalur neraka yang biasanya saya hindari. Ada 4 – 5 titik macet, yang benar – benar parah. Diperkirakan butuh waktu 2 jam lebih untuk ke Pondok Indah Mall. Belum lagi pulangnya.

Hati kecil saya membandingkan, antara suasana kantor ber-AC yang nyaman dengan suasana macet, panas dan penuh suara klakson di jalanan. Coba, Anda pilih yang mana, hayo?

Tetapi, jawaban Prof. Rhenald benar-benar menampar hati saya yang sedang malas.

“Tetap dong, kita harus gesit … agility.”

Demikian jawab prof. Rhenald Kasali di grup Whatsapp kami.

Kemudian, beliau melanjutkan ketikannya;

 

“Baru selesai salaman, sekarang sdh masuk kenderaan. OTW to Jogja, then Jakarta.”

Beliau mau salaman dulu dengan pak Jokowi dan keluarga, setelah itu langsung berangkat ke Jakarta.

Saya benar – benar merasa malu mendengar jawaban ini.

Dalam hati kecil, saya malas datang ke acara bedah buku di Periplus Pondok Indah Mall hehehe …

Tetapi, masa saya yang lebih muda kalah dengan yang lebih tua?

Apalagi, beliau sedang dinas di Solo, saya di Jakarta Barat.

Masa sih, saya yang lebih muda, yang jaraknya lebih dekat, kalah gesit dengan beliau yang lebih tua dan dari lokasi lebih jauh?

Malu ah!

**************************

Ah, pantesan …

Perusahaan saya, walaupun cukup sehat, tidak bergerak cukup cepat dan cukup banyak.

“Too little, too late.” Kata Geraldine Oetama, dari Sky Venture yang menginspirasi saya. Kita bahas tentang ini di artikel berikut ya …

Yang perlu saya lakukan adalah merubah sikap, dari sikap malas dan penunda, menjadi sikap seorang pengusaha sejari, ulet dan gesit (agile).

Saya harus bergerak sedikit lebih cepat, bekerja sedikit lebih banyak.

Ini jaman agility …

Ini jaman kegesitan, man …

Charles Darwin, dalam teori evolusinya yang terkenal berkata;

Bukan yang terkuat, atau yang terbesar, atau yang tercepat,

yang bertahan hidup.

Tetapi mereka yang paling gesit beradaptasi,

yang akan menjadi pemenang.

~ Charles Darwin ~

Mereka yang beradaptasi, akan mengalahkan yang kuno.

Dinosaurus sudah punah. Kita jangan.

Mereka yang gesit, akan menelan yang lambat.

Yang gesit, tidak kelihatan, tahu-tahu sudah muncul di depan kita, dan kemudian, segala sesuatu sudah menjadi terlambat.

Ini yang sedang terjadi pada banyak bisnis sekarang.

Mal – mal bertumbangan, diganti oleh toko-toko online yang mungkin belum pernah Anda dengar namanya beberapa bulan yang lalu.

***********************

“Jadi, mas Riawan. Acara bedah buku tetap berlangsung pada hari ini. Pak Rhenald akan datang langsung dari Solo siang ini juga.”

“Oh ya, kalau begitu saya arrange ulang dengan isteri, dan kita berangkat ke acara siang ini. Jam berapa mau berangkat pak?”

Singkat cerita, kita tiba tepat waktu di acara bedah buku, dan mendapatkan pencerahan – pencerahan yang luar biasa. It’s another story dalam blog ini 😊.

*************************

Kembali ke grup Whatsapp bersama pak Rhenald, setelah acara, pak Frans Budi Pranata, mantan CFO Zalora, bertanya kepada saya, apa key learning dari acara ini.

Pertama saya menjawab tentang materi, tentang Trimurti, tiga sosok dewa yang harus hadir dalam bisnis.

Terakhir saya berpikir ulang, key learning kali ini bukanlah tentang materi.

Key learning yang saya dapatkan adalah tentang keteladanan, tentang sikap, tentang agility.

Intinya, bagaimana kita harus bersikap agile, gesit, dalam menghadapi segala situasi. Tidak menunda saja tidak cukup, kita harus bergerak cepat, bergerak gesit, jauh lebih cepat daripada kompetitor.

Seperti komentar Ustad Yusuf Mansyur di bawah jawaban pak Rhenald Kasali, kita harus menjadi the Gesiters … Anda mau jadi the gesiters? Hehehe, cukup dijawab dalam hati saja 😊.

Pak Rhenald kali ini benar – benar menampar saya dengan teladan.

Tidak hanya itu saja. Di akhir acara, di sela – sela acara book signing, saya mendengar pak Rhenald berbicara kepada stafnya. “Mana sih anu,” Katanya setengah berbisik kepada stafnya. “nanti malam suruh dia ikut ke acara Kemendes …”

Wow, ternyata, setelah ini masih ada acara di Kementerian Desa.

Wow, Solo – Jakarta Barat – Kemendes …

Sungguh gesit bapak ini …

Di akhir artikel, saya sungguh bertanya pada diri saya sendiri;

“Jika pak Rhenald dengan usia diatas kita masih segesit dan serajin ini, bagaimana dengan kita, Anda dan saya, yang lebih muda?”

Plis komentar dibawah ya …

Salam Entrepreneur!

Johny Rusly

Small Business & Entrepreneur Blogger

Ps #1: Bantu share artikel ini ya …

Ps #2: Lihat artikel menarik lainnya di JohnyRusly.com – Small Business & Entrepreneur Blog – Dari Praktisi untuk Praktisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *